Selasa, 14 Februari 2012

Surat Kecil Untuk Kak Citra.

Kepada Kak Citra, di Penhujung kiri Indonesia, di Medan.
Aku sudah lupa, kapan kita pertama kali bertegur sapa, di social media.
Tapi, aku ingat alas an apa yang membuatku akhirnya, me-follow akunmu kala itu. Ya, kita sama-sama menyukai serial sahabat yang kala itu tayang di sebuah stasiun tv yang sekarang marak menghidangkan tayangan audisi boband juga girlband yang menurut ku: “Ah-Uh-Matiintvable” XP

“Follow baaaaaaack, dooong :D”

Kira-kira seperti ini kalimat yang menghantarkan ku pada sebuah tali pertemanan maya, yang berinteraksi lewat tulisan.

Kamu. Kakak yang selalu mendengar ceritaku, entah itu cerita tentang cintaku, hidupku yang penuh like, bahkan hal yang sekalipun kurang penting. :D
Terima Kasih untuk semua gelak tawa yang selalu kamu suguhkan untukku, untuk segala nasehat yang selalu menenangkan dan meredam gundahku.

Seperti saat itu. Aku ingat. Di satu pagi, pada suatu hari. Aku. Dengan tanpa ragu mencurahkan semua kekesalanku pada linikala twitter tentang kegaduhan yang dibuat Ayah Ibuku, saat matahari belum lama menyinari bumi.
Kamu, bertanya padaku, apa yang membuatku seperti itu. Lalu aku menjawab dengan jujur seperti selalu, dank au pun sebenarnya sudah tahu tentang apa yang membuatku marah se-pagi itu. Kamu, juga adikmu yang sudah kuanggap seperti dua orang kakak.
Mengatakan paaku bahwa itu, hal biasa dalam keluarga. :’)

Jujur saja, seluruh tubuhku marah saat itu. Lalu, kalimat itu. Meredam paling tidak separuh dari amarahku.
Lalu, saat aku dengan gigihnya menutupi kesedihanku. Kamu adalah tempat yang selalu kubuka tentang apa itu. Aku tidak tahu, hanya saja, aku merasa nyaman berbicara denganmu juga adikmu itu. Tiwi.

Dan, jujur saja. Kalian berdua orang pertama yang mendengar suaraku. :D

Terima Kasih untuk sebuah kehangatan keluarga kecil yang selalu kalian suguhkan untukku.
Terima Kasih untuk segala perbincangan kita selama ini.
Jujur saja, menyenangkan bisa berkenalan dengan kalian.
Oh iya, satu lagi, Terima Kasih untuk kado ulang tahunnya yaa, kak citra :D





Stay humble, keep healthy, and Semangat yaaa. Xoxo XD

Sabtu, 04 Februari 2012

Aku hanya terdiam, pandangan ku belum lepas pada sosok yang kini terbaring tak berdaya lagi diranjang itu. Tidak menangis, hanya tetap diam. Bukan, bukan karena tidak terluka dan berduka, justru karena terlalu berduka dan terluka menusuk di dalam hati, aku hingga tak bisa mengeluarkan airmata itu. Lalu semua terasa gelap, pandangan ku mendadak buram, tak bisa lagi kulihat sosok itu.

5 tahun kemudian...

Kepada nisan itu aku bersimpuh, tak ada lagi tangis hati itu, hanya sebuah senyum yang kini merekah di bibir ku. Ku letakan mawar putih itu tepat diatas tanah basah tempat dimana orang itu beristirahat selama ini...

“Aku mencintai mu, seperti hari kemarin saat kau dengan senyum mu itu melindungiku dari hujan deras saat itu, seperti hari kemarin, hari ini juga hari yang akan datang. Semoga kau tenang di alam sana, doa ku selalu menyertai mu... Kekasih ku.”

Rabu, 01 Februari 2012

"Untuk anak lelaki pemalu tujuh tahun lalu" #30HariMenulisSuratCinta


Hei, kamu yang wajahnya yang masih terekam (agak) jelas di ingatanku.
Kamu yang tujuh tahun lalu, selalu menghiasi hari saya di Sekolah, selalu menjadi semangat saya, motivasi saya untuk rajin menimba ilmu di Sekolah yang sangat membosankan itu.

Apa kabarmu ?
Semoga baik-baik saja seperti selalu saat tujuh tahun yang lalu. Hehe :)

Bagaimana ? apa penyakit (terlalu) pemalumu sudah sembuh ?
Ah, malu. Membicarakan ini, mengingatkanku pada wajah meronamu saat teman-teman kita dengan sengaja merayu saya dan kamu, ketika sedang melakukan gerakan tari yang mengharuskan kamu dan saya “berpegangan tangan”.
Kamu, saya, berusaha keras menahan tawa dengan wajah merona lalu akhirnya tidak berani saling memandang.
Kamu. Lelaki pertama yang membuat saya menikmati hari dengan cinta, begitu kira-kira saat itu.
Menyenangkan bila mengingat kembali masa-masa itu. Aku, menyukai kenangan tak terjelskan itu. Sangat menyukai tepatnya.

Oh iya, kebetulan beberapa hari yang lalu, saya ke tempat teman saya, yang kamu pasti tahu siapa dia. lalu, kami pergi ke tempat itu.
Tempat saya dan kamu mengukir kenangan demi kenangan manis yang kunikmati dengan senyuman juga sebuah tawa saat mengingatnya kembali.
Tempat saya dan kamu bertemu setiap hari tanpa saling menyapa karena malu.
Tempat saya dan kamu merasakan indahnya cinta untuk pertama kali.
Sekolah itu. Sekolah Dasar saya dan kamu.

Rasanya, seperti memasuki kembali dunia tujuh tahun lalu, tidak banyak yang berubah disini.
Kelas itu, ruangan tempat saya dan kamu juga lainnya berlatih tari, halaman tempat saya dan kamu berdiri saat bermain layaknya anak-anak. Lalu, kelas kamu, tempat tugas piket menyapu saya setiap senin. Ah :’). Lucu sekali semua yang terjadi disini.

Too sweet to forget :)

Kamu. Yang entah sekarang seperti apa. Mungkin akan menyenangkan jika bertemu lagi denganmu. Kamu sekarang dimana ? :)