Aku masih mengagumi senyum mu, seperti pada awalnya aku terpesona untuk pertama kalinya. Walau jelas langkah kita sudah jauh berbeda tujuan.
Sabtu, 31 Desember 2011
Dia tertawa, aku tertawa. Kami berdua tertawa pada kekonyolan yang kami buat sendiri. Sesederhana itu, bahagia.
Jangan biarkan ego mu lebih besar dari kasih mu...
Sebab sangat sulit mengendalikan semuanya, saat hati mu dirajai oleh ego mu sendiri. Saat semua ruang hati mu kini berisikan ego, keadaan tidak akan pernah sama lagi. Jangan sampai kau menyesali saat semua telah berubah. Sebab yang pergi, kadang kembali kadang memilih untuk tetap pada tempatnya. Kau bisa lari mengejar, namun tidak ada yang bisa memastikan kau bisa meraihnya kembali.
Jika kau mengasihi dengan hati, harusnya kau tidak akan sanggu untuk menyakiti...
Malam itu di tengah hujan, kami semua sibuk membangun tenda kecil untuk berteduh. Lalu ayah datang memanggil-manggil setengah berteriak nama “Anjeli”. Aku tahu bukan aku yang sedang dicarinya, tapi wanita yang bernama sama dengan ku itu, wanita yang ku kagumi, yang selalu menenangkan ku saat tangisku tak terbendung karena merindukan ibu...
wanita yang baik hati itu, wanita yang begitu mencintai anak-anak seperti aku. Wanita yang dicintai Ayahku, belakangan aku sadari itu dari mata Ayah yang memang tidak pandai berbohong.
“Ibu, Anjeli mana ?”
“Ini Anjeli, rahul” kata nenek ku sambil menunjuk ku.
“bukan, yang satu lagi, bu..” Balas Ayah ku dengan masih mencari-cari.
Lalu saat menoleh ke belakang, ia mendapati wanita itu, yang sedaritadi dicarinya. Sekaligus juga mendapati seorang lelaki seumurannya tepat dibelakang wanita itu. Ia berkata ia mengenal Ayah, kemudian lalu mengatakan ia juga mengenalku.
“Ah, itu Anjeli mu..”
lalu kemudian mendekap wanita itu dari belakang seraya berkata
“Ini Anjeli ku, cantik bukan...”
senyumnya saat mengatakan kalimat barusan itu sangat memberi tahu betapa bahagianya ia memiliki wanita itu, betapa bahagia dirinya. Tapi disini, disaat yang sama saat ia mengatakan kalimat itu, hati ku pedih sekali. Aku yakin, hal yang sama dirasakan juga oleh Ayah ku. Atau bahkan lebih dari yang kurasakan. Ia lalu menggenggam hangat tangan ku disaat hujan sedang derasnya. Lalu kemudian menciumnya dengan mata yang memancarkan rasa sakit tak terhingga.
Langit di ujung barat tampak seperti pipi penari yang ku lihat beberapa malam lau di sebuah pentas di perkampungan. Warnanya merah, merona. Senja sedang mendatangi ku yang kini berjongkok di pinggiran jalan tanpa kegiatan yang berarti. Aku hanya menikmatinya, melihat dunia dari bawah sini, memandangi jalanan ibukota saat senja datang, sesekali mendongak ke atas langit, entah apa yang kucari pada langit luas ciptaan Tuhan ku itu. Ke kanan lalu juga ke kiri, aku kini mempermainkan kepala ku. Sibuk sekali manusia-manusia ini, sampai berkumandang adzan magrib belum ku lihat ada seorang muslim mau berhenti sejenak untuk menyembah Tuhan nya. Yang ada hanya muslim juga muslimah yang datang dari rumah-rumahnya. Aku tentu saja tahu. Magrib sedang berlangsung, jalanan masih saja ramai, bunyi-bunyi klakson motor, mobil, truk bahkan bajaj seperti sedang berlomba bunyi klakson siapa yang paling hebat. oh Bumi, sungguh kasihan sekali dirimu. Senja kini berganti malam, aku masih disini, di pinggiran jalan di depan masjid kecil didalam ibukota.
Ketika yang peduli kini tak lagi seerti itu.
Ketika yang sering mengirimi sms, bbm kini tak lagi seperti itu.
Ketika yang sering mengagetkan mu di pagi hari dengan PING!!! Nya kini tak lagi seperti itu.
Ketika yang setiap hari menyapa mu kini tak lagi seperti itu.
Ketika yang siap (nganter) kamu kemana pun kini tak lagi seperti itu.
Ketika yang selalu stand up untuk kamu kini tak lagi seperti itu.
Ketika yang selalu sekedar bertanya “udah makan?” “mau kemana?” kini hampir tidak bersuara lagi.
Ketika yang selalu mengutamakan mu, kini tak lagi seperti itu.
Ketika yang rela berkorban demi kamu, kini tak lagi seperti itu.
Ketika yang selalu siap membenteng mu walau jelas pendapat mu bodoh.
Ketika yang selalu tersenyum melihat kekonyolan mu, kini bahkan untuk sekedar memandang mu tidak ada lagi.
Ketika yang selalu ingin dekat dengan mu, kini menjauh.
Ketika yang begitu peduli terhadap mu, kini seperti orang lain.
Ketika yang menaruh rasa pada mu, kini merasa dirimu bukan apa apa lagi.
Ketika semua yang biasa dan selalu dilakukannya, kini menghilang, dan tidak ada lagi.
Ketika semua tidak sama lagi.
Ketika semua telah berubah.
Saat itu pula, kau akan merasakan betapa pedihnya kehilangan orang yang ternyata begitu memedulikan mu, tapi sangat kau abaikan semua perlakuannya termasuk juga hati dan perasaannya.
ketika yang disia-siakan kini berbalik menyia-nyikan mu.
Saat sudah terlambat untuk mengulang semua.
Kau hanya terlalu sibuk untuk menyadarinya, lalu saat akhirnya ada jeda untuk akhirnya kau tahu, dia justru telah lelah dengan semua yang dilakukannya, tapi tidak pernah bernilai dimatamu...
“Sometimes all you can do is walk away, hide your tears, and just pretend you are okay."
Menadi lemah bukan takdir.
Menjadi lemah adalah pilihan.
Setiap orang punya kesempatan untuk menjadi lemah atau melawan.
Ketika seorang badut menimpan airmata dibalik riasan wajahnya yang penuh tawa dengan pipi dibiarkan merona.
Lalu badu itu akan tertawa sambil menangis, menertawakan dirinya sendiri.
Karena aku dan mereka adalah badut-badut penyedih yang menutup tangis dengan menertawakan dirinya sendiri.
- @Popokman
Tadi, saat tidur siang saat matahari sedang semangatnya bersinar, aku bermimpi. Di mimpi itu, aku sedang menikmati senja di sebuah taman bunga, disana penuh bunga, mereka sangat cantik. Anehnya adalah, tidak satu pun kulihat ada kupu-kupu berterbangan disana.
Aku sendirian, tak berkawan. Lalu kemudian datanglah burung-burung camar penghias langit diatas hamparan laut ke taman itu. Tidak terlalu banyak, hanya ada beberapa. Aku lalu bercengkerama singkat dengan mereka. Ternyata aku bisa berbicara dengan mereka. Ah.
“Kalian untuk apa disini ? bukankah harusnya tempat kalian diatas hamparan laut biru nan indah itu ?”
“kami disini untuk berkawan dengan mu, bukankah kau sendirian disini tanpa siapapun ?”
“ah iya. Aku kesepian hingga ingin menangis. Disini membosankan, aku tidak begitu menyukai bunga. Tapi, bisakah kalian membawaku terbang bersama kalian sekali ini saja ?”
“Tidak. Kau tidak bisa, kau tidak punya sayap seperti kami.”
“bisakah kau meminjamkan aku ? sayap...”
“tidak, kau manusia. Kau berbeda.selain itu, sayap ini hanya titipan Tuhan kami.”
Minggu, 25 Desember 2011
“You can’t blame someone for walking away, if you didn’t do anything to make them stay”.
Langganan:
Postingan (Atom)